..Bangku Kosong..
Ugh! Hanya ada satu meja dan bangku kosong pagi itu. Padahal, aku udah berusaha bangun pagi, kok tetep aja telat ya? Apa karena ini hari pertama masuk sekolah? Makanya temen-temen pada dateng pagi. Cuma dengan satu tujuan: dapet tempat duduk yang enak! Hmmm...rasanya emang gitu.
Pantes deh cuma disisain satu bangku dan meja kosong di depan dekat meja guru pula! Mantap!!! Tapi, aku cuma sendiri. Sendiri di bangku plus meja yang seharusnya untuk dua anak itu. Ah, biarlah. Bergegas aku menata buku, bersiap mendengarkan celotehan Bu Fatonah, wali kelas IVA SDN Pancoran 01 Pagi Jakarta Selatan. (ouch, aku masih kelas IV tho waktu itu? ^^).
15 menit berlalu, aku tak terlalu peduli dengan ocehan guru paling cerewet seantero sekolah. Cuma, agak deg-degan juga sih. Abis, dia galak! Aku terlarut dalam lamunan. Kubayangkan kalau setiap hari harus berhadapan dengannya, pasti ngeri dan mimpi buruk tiap malam. GAWAT!
"Tok...tok...tok...!" suara pintu diketuk, lamunanku pun buyar. GILA! Ternyata masih ada satu murid penghuni kelas ini (aku nggak nyadar, punya temen dia dari kelas satu). Jadi terharu, TERNYATA ada yang lebih telat dari aku, hehehe...Alamat, dia bakal jadi temen sebangkuku selama setahun. Duh, ni anak wangi banget, mukanya bersih, dan stationery-nya buagus2. Walah, dia kaya tuw. Bisa jadi masalah. Jangan-jangan...dia sombong, nggak mau temenan ama aku. Ah, matilah aku...
"Gue Indri!" serunya. "Iya, kayaknya gue tahu," kataku dalam hati. Kekakuan pun tercipta. Kelas terasa lengang, aku duduk dalam ketakutan. Takut nggak nyaman setahun duduk di jatah bangku satu-satunya. Huhuhuhu...
Perasaan nggak enak itu ilang gitu aja selesai istirahat. Entah gimana ceritanya, aku jadi cepet akrab sama Indri. Dia baik. Baik banget. Berkat dia, akhirnya aku betah duduk di bangku sisa, nggak peduli tiap hari harus ngadepin wajah serem Bu Fatonah, hehehe...
Malahan, hampir tiap hari kita maen bareng. Ngerjain PeeR bareng. Aku ke rumahnya. Dia ke rumahku. Hapal deh keluarganya, keluargaku. Umur kita sama. Kita sama-sama kecil, sama-sama kecepetan sekolah. Aku mulai nyaman di deket dia, temen yang nggak sombong dan menyenangkan. Dia pun begitu, tak ada hari tanpa menelpon. Ah lucunya, anak kecil!
Then, the day's came...The day which I have to go. Leaving the empty chair. Leaving my lil' heaven with her. I know, i'm gonna miss her, coz we're apart. It happens, I leave her.
I never think that i can keep her as my bestfriend. So does she. But in fact...
Indri, satu-satunya sahabat yang paling bisa ngerti aku. Aku berharap, aku pun demikian padanya. Meskipun tahun 1994 kita terpisahkan jarak yang tak terkira bagi anak kecil, TERNYATA persahabatan kita masih ada hingga detik ini berjalan, di tahun 2008. Media apa pun pernah kita gunakan demi mempertahankan apa yang kita punya, persahabatan sejati. Will never end. We know it each other.
Gimana kisah persahabatan 14 tahunku? Ntar deh, dibagi ke beberapa episode ^^

Recent Comments