« January 2008 | Main | March 2008 »

..Bangku Kosong..

Ugh! Hanya ada satu meja dan bangku kosong pagi itu. Padahal, aku udah berusaha bangun pagi, kok tetep aja telat ya? Apa karena ini hari pertama masuk sekolah? Makanya temen-temen pada dateng pagi. Cuma dengan satu tujuan: dapet tempat duduk yang enak! Hmmm...rasanya emang gitu.

Pantes deh cuma disisain satu bangku dan meja kosong di depan dekat meja guru pula! Mantap!!! Tapi, aku cuma sendiri. Sendiri di bangku plus meja yang seharusnya untuk dua anak itu. Ah, biarlah. Bergegas aku menata buku, bersiap mendengarkan celotehan Bu Fatonah, wali kelas IVA SDN Pancoran 01 Pagi Jakarta Selatan. (ouch, aku masih kelas IV tho waktu itu? ^^).

15 menit berlalu, aku tak terlalu peduli dengan ocehan guru paling cerewet seantero sekolah. Cuma, agak deg-degan juga sih. Abis, dia galak! Aku terlarut dalam lamunan. Kubayangkan kalau setiap hari harus berhadapan dengannya, pasti ngeri dan mimpi buruk tiap malam. GAWAT!

"Tok...tok...tok...!" suara pintu diketuk, lamunanku pun buyar. GILA! Ternyata masih ada satu murid penghuni kelas ini (aku nggak nyadar, punya temen dia dari kelas satu). Jadi terharu, TERNYATA ada yang lebih telat dari aku, hehehe...Alamat, dia bakal jadi temen sebangkuku selama setahun. Duh, ni anak wangi banget, mukanya bersih, dan stationery-nya buagus2. Walah, dia kaya tuw. Bisa jadi masalah. Jangan-jangan...dia sombong, nggak mau temenan ama aku. Ah, matilah aku...

"Gue Indri!" serunya. "Iya, kayaknya gue tahu," kataku dalam hati. Kekakuan pun tercipta. Kelas terasa lengang, aku duduk dalam ketakutan. Takut nggak nyaman setahun duduk di jatah bangku satu-satunya. Huhuhuhu...

Perasaan nggak enak itu ilang gitu aja selesai istirahat. Entah gimana ceritanya, aku jadi cepet akrab sama Indri. Dia baik. Baik banget. Berkat dia, akhirnya aku betah  duduk di bangku sisa, nggak peduli tiap hari harus ngadepin wajah serem Bu Fatonah, hehehe...

Malahan, hampir tiap hari kita maen bareng. Ngerjain PeeR bareng. Aku ke rumahnya. Dia ke rumahku. Hapal deh keluarganya, keluargaku. Umur kita sama. Kita sama-sama kecil, sama-sama kecepetan sekolah. Aku mulai nyaman di deket dia, temen yang nggak sombong dan menyenangkan. Dia pun begitu, tak ada hari tanpa menelpon. Ah lucunya, anak kecil!

Then, the day's came...The day which I have to go. Leaving the empty chair. Leaving my lil' heaven with her. I know, i'm gonna miss her, coz we're apart. It happens, I leave her.

I never think that i can keep her as my bestfriend. So does she. But in fact...

Indri, satu-satunya sahabat yang paling bisa ngerti aku. Aku berharap, aku pun demikian padanya. Meskipun tahun 1994 kita terpisahkan jarak yang tak terkira bagi anak kecil, TERNYATA persahabatan kita masih ada hingga detik ini berjalan, di tahun 2008. Media apa pun pernah kita gunakan demi mempertahankan apa yang kita punya, persahabatan sejati. Will never end. We know it each other.

Gimana kisah persahabatan 14 tahunku? Ntar deh, dibagi ke beberapa episode ^^

                            

..Tersia..

Aku pernah garap sebuah cinta

Datang dari suatu masa

Ketika hati begitu hampa

Dia,

tak seharusnya jadi siapa

Tapi dia ada

Sediakan hati untuk diraba

Sampai akhirnya rasa tercipta

Ternyata,

hatinya hanya tersia

Aku tahu sakitnya,

aku tahu perihnya,

aku tahu kecewanya

JANGAN TERULANG!

Itu saja...

(cuma pengen nulis)

..Lagu Lamaran..

--I Will-- (song by The Beatles)

Who knows how long I've loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely life time
If you want me to I will

For if I ever saw you
I didn't catch your name
But it never really mattered
I will always feel the same

Love you forever and forever
Love you with all my heart
Love you whenever we're together
Love you when we're apart

And when at last I find you
Your song will fill the air
Sing it loud so I can hear you
Make it easy to be near you
For the things you do endear you to me
And you know I will
I will

Written in my organizer, 3 days before the paper in computer's book.

VLadD said: Lagu ini dibuat ama McCartney waktu dia mau ngelamar istrinya ^^

..Aku dan Dia(ku)..

Ini tahun ke delapan aku bersamanya. Lewati suka dan duka dari waktu ke waktu berdua. Dulu, aku dan dia sama-sama culun. Masih SMA. Aku ingat, betapa dia sangat mencintaiku dengan sangat lugu. Entahlah, rasanya lucu, aku gemar caranya memperlakukanku. Sikapnya polos, kata-kata yang terlontar pun terdengar menggelitik, ah...sebenarnya DIA NGGAK AKU BANGET!

Bagaimana aku bisa mencintainya? Tentu itu terjadi begitu saja. Padahal aku sudah jadi temannya sejak SMP, tapi debar hati baru ada saat SMA. Dia begitu diam, kurang menyenangkan, dan nerd kurasa. Benar-benar nggak aku banget!

Lha iya, kok bisa aku mencintainya? Sekali lagi, kurasa itu terjadi begitu saja. Mungkin benar kalau "witing tresna jalaran saka kulina", demi kegiatan OSIS, aku kerap bersamanya. Ah, padahal ada sahabat yang suka padanya. Aku pun mundur teratur mengubur rasa. Bukan sok pahlawan, tapi aku sayang sahabat.

Tapi, benar kata lagunya Marcell, "Cinta datang tiba-tiba". Rasa di hatinya tertuju padaku, bukan sahabatku. Akhirnya, cinta lebih memilih aku dan dia untuk bersama. Tentu kuminta dulu restu sahabat. Justru ia sangat rela (katanya), tak ada pertengkaran walau sekali saja. Dia malah menobatkan kami sebagai "the most favorite couple ever".

Secarik kertas dalam buku komputer kelas 2-1, itulah buktinya. Dia melancarkan serangan yang sungguh tak terduga. Meluluhkan hatiku dengan caranya yang tak biasa. Ya, dia yang kupikir diam itu nyatanya bisa mengatakan inti sari tiga kata yang bikin pecinta mabuk tak berdaya.

Bukan pertama kali aku mengikat rasa, tapi kali pertama aku sungguh ber-asa miliki masa depan bersamanya. Itu pun aku tak menyangka. DIA NGGAK AKU BANGET. AKU JUGA NGGAK DIA BANGET. Apa yang buat kami bersama? Pastinya, bukan cuma rasa dan asa, kami juga punya unlimit usaha untuk terus bersama. Aku dan dia.

Ini tahun ke delapan, sudah sangat banyak usaha. Walau awalnya tampak tersia, belajar tak henti buat kami makin sempurna. Goda memang selalu ada, bahkan tak kunjung mereda. Waktulah yang bicara. Waktu pasti akan bicara, entah dua, tiga, bahkan lima tahun ke depan. Waktu akan bicara setara dengan usaha untuk tetap bersama. Akankah kami bersama selamanya? (Asaku dan asanya: Iya!)

..Ketemu!..

Akhirnya aku menemukan dia. Ya, dia yang nyaris hilang dalam masa dua tahunku jalani pilihan ini. Sebenarnya cukup mengerikan, nyaris kehilangan dia. Seperti kehilangan kenikmatan yang terbiasa kukecap. Tentu saja, aku sangat bersyukur bisa menemukannya kembali. Di balik 'krisis' yang sempat kualami, ternyata tampak  kesempatan untuk bertemu dia lagi. Aku berlari, mencoba melupakan 'krisis'ku. Dan aku mendapatkan dia. UTUH!

Dia adalah...gairahku membaca novel. Dia adalah...semangatku menonton film. Dia adalah...kesenangan dalam hidupku. Dia adalah...kenikmatan dalam tiap kesempitanku. Welcome back! ^^

..Jangan Berhenti..

Dia menyapa,

walau aku tahu

ada maksud kerja di baliknya.

Aku seakan melihat,

ada gunung es yang mencair,

di depan mataku.

Bahkan,

aku bisa merasakan,

betapa dingin lelehannya.

Tapi,

aku tak peduli.

Sungguh tak peduli!

Kau sanggup menatapku,

itu saja sudah cukup.

Karenanya,

jangan berhenti,

menatapku,

menyapaku.

Kutunggu selalu.

(hanya sedang ingin menulis)

..The Curse of Salt Island (part2)..

Kutukan pulau garam memang sudah sampai pada giliran gadis imut nan cerdas (satu orang di antara empat kawan lain yang beberapa tahun lalu berpetualang ke pulau garam). Namun, berkat kegigihannya bertapa di sebuah gua yang terletak di Timbuktu, akhirnya kutukan itu tak jadi merenggut kehidupan cintanya. Si kecil terselamatkan. Ia menjalani kehidupan cintanya kembali dengan pangeran 'Tiang'.

Eits, tadinya sebelum bertapa di Timbuktu, si kecil berpikir, "Ah, kawan...kita pasti bisa terselamatkan dari kutukan, kita akan mendapatkan rotasi kutukan baru dari pulau lain, xoxoxoxo. Akulah penyelamat kalian dari kutukan pulau garam, hohohohoho..." (pake gayanya pahlawan bertopeng ala SinChan).

Aih, ternyata si kecil tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menghampirinya ketika ia bertapa di gua Timbuktu. Di batu besar tempat si kecil bertapa, ada lalatprajurit dari pulau garam yang hinggap. Ternyata si lalatprajurit lagi travelling. Begitu lihat si kecil, lalat itu langsung kaget. Dalam pikirannya, "Wah, si kecil ini mau menghilangkan kutukan. Gawat, aku harus melapor pada baginda lalatasin."

Karena kehabisan pulsa, lalatprajurit kebingungan isi ulang. Ternyata di gua Timbuktu nggak musim pake HaPe (mereka lebih hai-tek, komunikasinya pake teleconference) jadilah nggak ada yang jual pulsa. Lalatprajurit kebakaran jenggot (hehehe...dia punya jenggot lho!). Padahal mantra si kecil hampir abis sementara dia belum nemu cara menghubungi baginda lalatasin. Then, DONE! mantra si kecil untuk menghilangkan kutukan padanya berhasil. Lalatprajurit gulung2 nggak karuan.

Begitu si kecil mulai membacakan mantra kedua, HaPe si lalatprajurit bunyi. Si kecil jadi nggak konsen, mantra yang dibaca jadi kebolak-balik. Sampai akhirnya, AAaaaaaaaaarrrrggghhhh...si kecil terjatuh, terlempar dari tempat bertapa yang tinggi. Lalatprajurit tertawa terbahak2. Tapi, pangeran 'Tiang' menolong si kecil. Jadi si kecil baik2 aja, hehehe...

Lalu, bagaimana nasib kutukan pulau garam itu selanjutnya? Sebulan berlalu, ah...kutukan itu pasti batal, kan mantra yang separuh udah kesebut. Dua bulan berlalu, aman2 aja tuh! Jangan2 beneran tuw kutukan udah amblas...

Tiba-tiba...entah mimpi apa semalam, pagi-pagi buta dapet sms dari satu-satunya orang yang belum kena kutukan pulau garam (inget The Curse of Salt Island part 1, bee). Yeah, Erditya Indra Wirasta, S.E yg kerja di Radio HardRock FM dan sok ngaku paling ganteng itu mengirim sms.

Ehm, nggak etis ya kalo aku sebutin dg jelas isi smsnya??? =D (aku masih nyimpen lho padahal =P). Whatever, intinya dia pusing krn hawa kutukan pulau garam sudah membauinya sejak minggu kemaren. HWAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!! Kutukan itu kembali, ati2 The Tsu Family...Take care on your love life...Tsu Dty, segeralah bertapa ke gua Timbuktu, nanti kuajari mantranya!!!

Next meeting, Tsu Dty punya kewajiban press conference pada keluarga Tsu yang lain. Buat keluarga Tsu yang lain, gimana kalo kita berlibur???

..Berjuang untuk Pilihan..

"Selama kamu masih bisa berjuang untuk pilihanmu. Kamu tetap harus berjuang. Jangan pasrah."  That's a quotes from someone who close to me. Hmmm...actually, ini jadi quotes of the week yang PAS banget buat aku (meskipun aslinya content yang aku omongin ama dia nggak berhubungan dg kondisi 'krisis'ku minggu ini).

Nggak tau kenapa, aku 'klik' ama kata2 itu. Padahal, minggu ini aku udah berbagi beban ke beberapa orang, tapi kok yang menurutku oke malah saran di luar beban itu ya? (apa krn aku suka nyambung2in? hehehe...). Whateverlah, yg pasti itu udah jadi quotes of the week.

Ya...setelah berhari2 aku mendekam dalam masa jahiliyahku sendiri, akhirnya aku menyadari sesuatu. Tepatnya sejak kata2 itu terlontarkan. It's about choosing, it's about choice. Aku yang memilih jalan ini, aku yang keukeuh dengan pendirianku untuk tetap di sini, meskipun tawaran lain sempat menggoda toh dulu aku memutuskan bertahan di sini. So that, something which underlined is: i have to fight for my choice.

Aku jadi inget, aku dulu pernah lho bingung memilih sampe gopo ndak karuan =D Jadi ceritanya gini, dari SD mata pelajaran yg nyantolnya kuat di otakku tuw IPS ama Bahasa (bukan berarti aku gak bisa IPA). Makanya, sejak SMP, aku udah tau ntar aku bakal ambil jurusan apa di SMA. Awalnya, aku lebih pengen masuk SMA 2, krn ada program Bahasanya. Tapi, krn kakak kandungku sekolah di sana, aku nggak jadi masuk sana (dia takut kesaing :D). Yawda, akhirnya aku masuk SMA 1 yg notabene paling favorit dan gradenya tinggi di kotaku (cieeee...belaga pinter, padahal biasa aja =D).

Nah, dari kelas 1 tuw aku udah YAKIN mau milih IPS kalo udah kelas 3 nanti. So that, pas kelas 2 (waktu angket pilihan jurusan) dg mantap aku pilih IPS (TANPA pilihan kedua, padahal temen2ku mayoritas pilih IPA dan IPS sbg pilihan kedua. nah aku? udah nggak pilih IPA, nggak ada pilihan kedua juga). Asli yakin aja, meskipun pas dites IQ, sarannya IPA (bodo' amat).

Masalah terjadi ketika ternyata pas kenaikan kelas, sahabat2 baik dan pacarku masuk IPA. Tiba2 aja aku bingung nggak karuan. Mikirin hal yg aneh2, takut keilangan kebersamaan dan nggak nyaman belajar di IPS (yg bukan jurusan favorit). Begitu selesai rapotan, aku langsung tanya2 ke beberapa guru ttg kemungkinan pindah ke IPA. Aku si PeDe aja krn emang nilai IPAku juga lumayan bagus kok! (walah, sok2an lagi).

Pas giliran aku mau ke wali kelas dan kepala sekolah, papa yg ngeliatin aku bingung nggak karuan, tiba2 bilang: Papa sih ndak masalah kalo emang kamu sreg di IPA ya pindah aja. Tapi kan, sebelum ngisi angket itu dulu kamu dikasih waktu satu bulan buat mikir. Lha, kamu sendiri udah lama yakinnya ama IPS. Kok bisa waktu sedemikian lama utk memutuskan pilihan, tiba2 berubah dalam waktu singkat? Sebulan mikir, berubah dalam satu hari? Beneran?

DEG! waktu dibilangin gitu aku langsung shock. Iya...ya...? Akhirnya, aku berhenti memikirkan hal2 yg membuatku bingung dan takut. Aku keukeuhkan lagi niatku utk masuk IPS. Nggak sia2 kok! Buktinya, aku bisa berprestasi di sana, aku bangga banget selama waktu itu. Kusadari pas akhir waktuku di SMA: Jalan yang kupilih utk masuk IPS itu jalan yg bener, jalan yang sesuai dengan kata hati dan prediksiku akan kemampuanku sendiri.

Hmmm...ya udah, quotes of the week dan sepenggal pengalaman masa laluku bakal aku coba untuk meretas 'krisis' yang kualami. Aku bakal coba menghadapinya, memperjuangkannya, sampai aku benar-benar lelah utk mencoba. Ya, bagaimanapun, aku tetap punya batas...

Makasih buat seseorang dg ID "someoneinurheart" ^^                                                                                    

..What I Wanna Say's..

Walah sok kiasan ya tulisan sebelum ini persis? Aku hanya sedang jengah dengan situasi yang tengah kuakrabi setahun (lebih) belakangan ini. Rutinitas dan jalan yang stagnan membuatku merasa tidak terlalu berkembang. Aku mengerjakan hal yang sama seperti saat kuliah dulu.

Kadang aku merasa kondisi ini memang diciptakan, orang-orang yang pintar, ketika  memutuskan untuk bertahan di sini, artinya mereka siap 'dibunuh' kreativitasnya. Pastilah, aku tahu bahwa ada dilema yang terjadi dalam tiap diri mereka. Namun, ketika kebutuhan finansial lebih dominan, bertahan dengan menerima segala kondisi tentu menjadi keputusan yang terpilih.

Pada kondisi tertentu aku bertanya-tanya: Akankah aku ikut bertahan di sini dan merelakan 'kematian'ku? Seringkali aku merasa mampu dan optimis merelakannya, meskipun sudah kurancang benteng pertahanan supaya aku tak menjumpai 'kematian' itu. Sayang, akhir2 ini aku dilanda berbagai hal yang membuatku meragu.

Aku tak mengerti dengan ketakutan orang-orang itu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya diperjuangkan. Aku tak paham dengan kebekuan yang dicipta. Apa jadinya aku ketika sedikit melangkah berbeda saja sudah dicerca? Bagai sebuah patung, hari ini yang biasanya banyak hal bisa kukerjakan, AKU CUMA JADI PAJANGAN.

Bodohnya lagi, aku mengulang kebiasaan lalu yang sudah kupendam. Kumat. Memikirkan semua yang terjadi dengan cukup mendalam (mengutip kata2 seorang teman), tak bisa menjadi lebih acuh. Ugh, bego! Damn! Sesak rasanya, napas itu sudah ada di kerongkongan, tangan pun mulai kesemutan. Coba aja kalo VLadDku nggak mengingatkan, bisa malu aku hari ini. Sudah jadi patung, remuk pula!

"Istighfar Ay!" serunya. Aku yakin, dia yang tahu kebiasaan pingsanku sejak dulu, pasti kuatir. Bayangin aja, kalau aku sampai nurutin pingsan di sini, MANA ADA YANG MAU PEDULI??? Bisa2 dibiarin mati aku...hahaha...aku nggak bisa ngukur kadar ketidakpedulian orang-orang di sini. Atau mungkin bisa jadi aku ditolong, abis aku sadar, tetep aja dicuekin. Malah mungkin dikasih balsem jadi mumi, atau diawetkan dalam laci pengawet mayat sebelum diotopsi =D

Beda, semuanya berbeda dengan apa yang pernah kujalani sebelum ini. Dalam organisasi manapun, aku selalu berusaha untuk terbuka. Kalau emang ada yang mengganjal ya disharekan, dengan begitu kan masalah bisa diselesaikan. Nggak perlu ada iri, apalagi dendam dan ungkit2an. Semua orang PINTAR selalu mau dikritik dan siap untuk KRITIK (my dad's always said like that to me). Soalnya, hasil share itu kan bisa bikin kita becermin dan berusaha untuk jadi orang yang lebih baik. Aih, di sini mah nggak gitu tau'!

Yeah, finally...i found myself in a poor condition. BUT, i know...it just a step for me to understanding and accept this condition. Maybe, until the day i decide to resign, i will survive in silent mode. Hiks...tapi aku nggak mau begitu, aku selalu lebih nyaman menjadi diriku sendiri, bukan diriku yang dibentuk orang lain. Huh! Mbok ya kalo mau belajar tuw belajar bareng tho yo...

(hati kecilku berkata: Udah NoN, semangat! Belajarlah dimulai dari diri sendiri, pahami kondisi, beradaptasi dengan ketidaknyamanan. YOU CAN DO IT NON!!! Yippieeee....)

..On Me Now..

Setahun lebih aku mengabdi, tibalah aku di titik ini. Sebuah titik di mana aku ingin bicara dan didengar. Sebuah titik di mana aku berharap bisa menemukan jalan yang lebih terang. Sebuah titik di mana aku ingin berbagi, membuang keluh kesah yang mengganjal di hati. Sebuah titik di mana aku ingin ada perubahan, menjadi lebih baik. Bukan untukku saja, tapi untuk semua.

Sayang, saat aku mencoba menginjakkan kaki tepat di titik itu, TERNYATA pijakanku melesat. Saat ini kurasakan tubuhku limbung, kakiku tak cukup kuat untuk menahan beratnya beban yang kupanggul. Cuma teriakan "tolong" yang mampu kuucapkan, meraba-raba siapa tahu ada yang mampu menggapai jemariku. Memang, aku tak jatuh. Open minded guys meneriakiku untuk bertahan, tidak menyerah kalah, menyingkirkan perasaan yang teramat mendominasi ketimbang logika (thanx to them).

Tapi aku tetap saja terperosok, bukan tak hiraukan mereka yang berbaik hati meneriakiku. Sebab, ketika aku berusaha menarik salah satu tangan yang kuanggap kuat, ternyata tangan itu tidak sekuat yang kubayangkan. Aku tersadar, aku salah menarik tangan. Tangan yang ingin kugapai untuk menolongku, tak cukup kuat, mungkin tulangnya sudah rapuh. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Kasihan, kalau aku memaksa untuk menarik tangan itu, bisa-bisa nanti patah.

Sakit lho rasanya. Terperosok tanpa ditolong. Dia...yang kuharapkan bisa menolongku, ternyata tak bisa kuandalkan. Kupercayakan laju hidupku pada intuisi saja, sesekali mengikuti hati. Sensitivitasku sedang luar biasa tingginya, aku takut tak mampu, napas ini sudah tercekat...berhenti pada batas kerongkongan. Kalau tak airmata yang meluncur, tubuhku pasti limbung lagi. Butuh teriakan macam apa kalau tangan yang kuanggap bisa tergapai, ternyata ringkih? Ah, sama saja! Tak ada artinya aku berbuat apa.